Pages

NAJNAJAKIA BLURGG

Di sini aku coret,lakar,conteng,lukis,catat,tulis,leter,bebel,sindir,ukir,pahat,tekap,warna cerita hidup aku

Tuesday, May 17

Bicara Laut

Di celahan manusia yang rawak, aku labuhkan kepala di papan yang lembab dan dingin, berembun malam, hawa yang masin . Suara-suara ombak yang menyisir tepi kapal, tiada bisa menghanyut hanya merenggut tali sauh, membuai kami yang leka mencongak bintang yang bertabur di langit tak berpurnama.
Sesekali terlihat satu-dua bintang yang mencoret kaki langit dengan cahaya yang sekerdip mata. Haruskah aku mengucap harap?



Dari puncak-puncak ombak aku lempar ladung rindu, dengan harapan tersentuh dasar hatimu yang ribuan depa dalamnya. Apakah engkau masih bugar di malam ini? Apakah engkau tahu aku sedang menjahit bebintang menjadi buruj wajahmu? Biar tali-tali cahaya yang aku pintal ini akhirnya menjadi benang dan lembar yang menyelimut aku pada malam yang berembun, di air yang bergolak, di celahan manusia yang rawak.


Rindumu kah itu yang mengusik tali perasaan yang aku celup ke dalam laut hatimu? Ataukah hanya mainan ikan-ikan yang ikut mengejek aku yang kepingin menakluk samudera, sedangkan menyelam juga senafas cuma lamanya.

Sudahkah lembut air hatimu, atau semakin keras pula, menampar aku dan tali kerinduan, serong ke dalam kegelapan, jauh dari cahaya. Izinkanlah aku dekat, wahai juwita!

Sambutlah kail keikhlasan, sangkutkan pada jiwamu yang sudi menerima, aku sudah tidak mengira rindu ataukah simpati, asalkan adamu di hujung tali. Aku perlu renggut-renggut hatimu menjadi denyut-denyut nadiku. Setidaknya dapat merasa kehadiranmu, jika tidak dapat melabuhmu pada dakap rasaku.

Serelung hati dan segulung tali, melilit kita yang dua, tersimpul mati.
Seperit bekas jerutan, aku tahan, sakit tiada jeritan.
Sesempit berkas lautan, pelan-pelan, hinggap kita di daratan.

Wahai juwita jiwaku. Andai denyar ini sampai ke lubuk tempat engkau menyorok sudimu.
Tahulah kamu tahu, aku masih lagi menanti kamu seperti perahu yang tersauh ini, timbullah timbul jangan terselam jauh sekali.


Di bawah kolong langit, di dalam selubung malam berembun, di atas kapal tersauh tak bergerak, di air yang bergolak, di celahan manusia yang rawak.

***

    

  



Sunday, May 1

Ada Apa

Cepatlah hadir wahai ilham
Dekatlah hampir bagai pendeta
Yang membisikkan jiwa dan bahasa
Sesudah subuh sebelum cahaya

Muak sudah pada kuningnya suara-suara senja
Jelik pada hitamnya angin hasut-hasutan malam

Aku mahu hanya bait cinta menjadi rangga ragaku
Jadi datanglah
Datanglah ilham
Terangkan nadi puisi aku
Serentak hadir hari aku


 NEWER POSTS OLDER POSTS HOME