Pages

NAJNAJAKIA BLURGG

Di sini aku coret,lakar,conteng,lukis,catat,tulis,leter,bebel,sindir,ukir,pahat,tekap,warna cerita hidup aku

Wednesday, November 22

The Face of Love


I was looking at the dry leaves,
Leaving the trees,
Onto the parched and alone soil.
In the absence of the sun,
Clouds suspended in the air,
Lifeless, grey.

I was looking at the face of my Love,
And all I can see,
Was the shadow of disappointment,
Seems like Hope had left her,
She said, "might as well bury me six feet under."

Oh, is it still possible,
Or is it unavoidable,
The scratch on my Love, is a cut on my heart.
My soul grows restless,
Not knowing how this will end,
Will we ever find happiness,
Or will we live in disdain?

So I brave myself,
For the sake of my Love,
Verily, the only cure is the face of my Love.
Come what may,
Come at me, I dare you to fray,
I'm afraid no more, 
In here a fire’s grow.

Oh, my sweetest dream,
Conjure up and wake me up,
Let me touch your faces,
Oh, my Love, your million sweet faces.

Is it too much to ask,
For me to hold your hand and your heart?
Because in the murkiness that Hope promises,
The only rope I believe in,
Is the one our Lord's throwing in.

🍎🍏 

Tuesday, August 29

Satu Pagi

Detap hujan menjadi derap
Kadang dentam kadang denting
Menghentam hunjam atap zink

Dan ini ialah bicara hati dini satu pagi
Aku masih mencuba menulis
Sejujurnya menulis
Tanpa mencuba menjadi puitis

Tapi entahlah
Semuanya kecamuk
Berantakan bagai dilanda amuk
Tak tergores ayat
Tak tercalit dakwat
Rasa ini seakan sekat
Ditelan perit diluah sakit

Terlalu banyak rasa untuk disusun menjadi kata
Terlalu kompleks runtun jiwa tak terjemah menjadi bahasa
Terlalu rumit untuk dikisahkan mana subjek mana predikat
Terlalu sedikit peribahasa terlalu banyak peristiwa

Biarlah carca marba prosa ini
Menjadi seperti simile
Puisi ini metafora hati
Simpulan bahasa bagi simpulan kata yang mati

Dan ini masih bicara hati dini satu pagi
Walau hujan sudah pun berhenti

Tuesday, July 4

Samsara Laut

Deraman enjin diesel mencakar papan yang lembab. Disentap sauh yang melangut di ujung kapal, dicampak di tengah laut, di bawah lindungan astral.

Enjin dimatikan, deram jadi batuk, batuk jadi dehem. Kemudian senyap. Telinga semacam dipekap tiada-bunyi, sengap terlampau sunyi.

Berlabuhlah aku di lebuh nautika, melempar perambut di lantai samudera, diam makhluk laut mencari suaka.
Dan aku? Aku datang mencari suara.

Dibalut lembut henjutan laut, diserkup langit kosong bebintang tak dijemput. Sedangkan bulan juga digerhana awan, pudarlah wajahmu dari ingatan, saat buruj tidak terjahit terlihatkan. Sebegitu sekali hebatnya kesilapan diri, menjenguk pun tidak layak.

Kemaafan apa aku perlu lafazkan, sesalan apa yang harusku hafazkan, barulah engkau mahu menerobos tembus dari balik awan menyinar serba mulus, lagi terang dari sang badrus. Kalau harus aku menyelam ke lurah hatimu, sedalam mana baru kanku temu pengampunan? Di balik kubu yang kaubina dari rencam rasa yang engkau pendamkan, sekuat mana harus kuumpil baru kau sudi membuka pintu hati yang selama ini terkatup mati?

Tapi di sini, di dalam laut hati aku sendiri yang terlalu lama gersang cahaya ditelangkup gelap, secebis luminis pun kian malap. Hitam laut hati ini menyusup ke langit, hingga tak bisa dibanding pejamkah celik. Jeritan hati yang bisu biar terdengar dek lautan Terengganu, keluh-kesah yang mendesah sayup. Wahai laut, aku berahikan prakata tentang perasaan, prarasa tentang cinta, bahkan sembang kosong dan kekek tawa yang aku sangka tak berpenghujung. Tak dapat diramal akal bahawa bahagia ini cuma sejengkal, walhal selebihnya pengharapan mengkal, permulaan cerita derita. 

Bicara laut biarlah derita itu melindap. Angin samudera pula bertiup ke cuping telinga, bisiknya menyelinap ke jiwa seakan berkata, sudahlah, lepaskan harap.

Dan tiadalah hati ini larat lagi! Wahai insan yang aku kejar pengampunan, tidaklah sehari berlalu tanpa aku melibas belakang badan dengan cambuk sesal, belikat aku sudah berselirat birat, parutnya cabuk, cacahan sebal.

Jadi, kepekatan gelap ini biarlah menjadi soles bagi hati yang terlalu lama dicalar guris. Biar malam ini jadi penutup pada samsara, yang menggulung aku sekeras ombak yang gelora. Derailah garang sang badai menjadi air, terungkai saat bertemu pantai, sisanya bahkan tumimbal lahir, jadi buih di himpunan pasir, menggumam derum si guntur, membumi arka sang petir.

Maha asa kaubukakan mata ketigaku yang dulunya gelap aspal. Dapatlah kini menafsir suara takdir yang serasa hayatnya ekuivokal. Dengan sifir kehidupan dan logaritma degup jiwa yang kauajarkan, akan aku pilih satu terjemahan, dari dua yang bercanggahan.

Di sunyi tanpa enjin berderaman, melangut muka ke langit tak tercerapkan, bawah lindungan astral yang kian terbit kian dian. Aku rupanya bukan sendirian, bahkan termerdekakan.


Thursday, February 23

Hello

"Hello, assalamualaikum."

"Waalaikumussalam, Mak."

"Buat apa tu? Dah makan?"

"Tengok TV. Em...belum."

"Bila nak makannya?"

"Em...tak makan kot."

"Lah...kenapanya?"

"..."


Orang sunyi, Mak. Sebatang kara. Nak makan seorang, segan rasanya. Kawan sebaya sekepala dah tak ada. Yang ada semua dah berkeluarga. Dulu adalah seorang dua. Sudi teman makan sekali-sekala. Tapi bila dah lama baru orang sedar. Berkawan ni bukan boleh dipaksa-paksa.

Tak apalah orang tak makan. Tak seronok makan tak berteman. Jimat belanja banyak simpanan.

Tapi kalau boleh memang orang nak tinggal, nak kerja dekat dengan rumah Mak. Tiap-tiap hari boleh makan masakan Mak.  Orang tak kisah orang tak ada kawan. Asalkan orang ada Mak.

Mak ingat tak raya lepas Kakak cadang tak payah masak rendang, masak mi kari? Orang tak setuju, orang bangkang terus. Sebab bukan selalu orang boleh makan masakan Mak. Lagi-lagi masakan Mak yang setahun sekali.

Kalau duduk dekat dengan Mak dah tak payah telefon, tiap-tiap hari boleh sembang emak-anak. Mak pun tahu orang bukannya jenis rajin menelefon. Tadi orang ada rasa nak telefon, tup tup Mak yang telefon orang dulu. Betullah orang kata, hubungan emak-anak ni lain macam. Mungkin Mak boleh rasa orang rindu Mak.

Mak, kalaulah orang boleh cakap sebegini jujur dengan Mak. Tak ada rahsia, tak ada yang terbuku. Tapi lidah orang kelu. Orang dah tak biasa rapat macam dulu. Dari kecik duduk terasing berbatu jauh buat hati orang sendiri jadi batu. Jadi luah di sini saja yang orang mampu.

Tapi orang percaya bukan semuanya terlambat. Mak ingat tak ada satu malam dekat belakang dapur, kita bersila di lantai buat tempoyak. Sambil asingkan isi durian dari bijinya, kita bersembang berdua saja. Orang tak ingat apa isi bicaranya, tapi orang ingat kita bergurau dan ketawa.  Orang ingat orang rasa gembira.

Malam itu, orang jadi semula anak Mak yang dulu.

Sunday, February 19

The Crossroad

I feel like I finally reached the crossroad that I dread. With each step, my heart sank a little more. The heaviness is not in my feet, but rather, in my chest. All the stops that I took did nothing more than just delaying the inevitable. All the detours always, always lead me back to this.

The other day someone asked me how old I am? And I hesitated. No, not because I'm afraid to reveal how old I am, because it's pretty evident that I look my age, there's just no point lying. Right hand to God, at that time I forgot my age! So my head did a little calculation and I just realized that I'm freakin 27 going 28.

Not caring about your age might seem romantic, but that is only true if you're living your life knowing what you want. And I'm not.

What is my accomplishment so far? I don't have my own car (and it's killing me). I'm not in anyway close to owning a house, heck I don't even rent one because I'm living in a subsidized company house which is basically a slum with all the drama I had to endure on a daily basis. I don't invest my money. I'm still at my first job (that's as far as I can comment about that, but you get the gist).

In essence I avoid all the prerequisite steps a boy has to take to become a man. I run. I hide. I live the day without really thinking what's going to happen tomorrow. And I wish I do my best every day, that would be great, go ahead turn my selfies into motivational posters. But I dread each of them. I'm stuck.

I don't need to follow other people's typical lives, yeah sure, but it's become apparent to me that I'm nothing more than typical. This is not self pity, but a realization. I'm not going to change the world. I don't have any talent that I can capitalize. I'm socially awkward and sometimes downright hostile. I'm failing everything. If it makes any sense, right now while I'm typing this down I'm reminded of my 10-years-old self. You have so much potential. You were ambitious. Idealistic. I failed you and I'm sorry.

I need to turn this around, damn it.

But I don't know if I can. I just don't know if I can.
 NEWER POSTS OLDER POSTS HOME