Posts

Samsara Laut

Deraman enjin diesel mencakar papan yang lembab. Disentap sauh yang melangut di ujung kapal, dicampak di tengah laut, di bawah lindungan astral. Enjin dimatikan, deram jadi batuk, batuk jadi dehem. Kemudian senyap. Telinga semacam dipekap tiada-bunyi, sengap terlampau sunyi. Berlabuhlah aku di lebuh nautika, melempar perambut di lantai samudera, diam makhluk laut mencari suaka. Dan aku? Aku datang mencari suara. Dibalut lembut henjutan laut, diserkup langit kosong bebintang tak dijemput. Sedangkan bulan juga digerhana awan, pudarlah wajahmu dari ingatan, saat buruj tidak terjahit terlihatkan. Sebegitu sekali hebatnya kesilapan diri, menjenguk pun tidak layak. Kemaafan apa aku perlu lafazkan, sesalan apa yang harusku hafazkan, barulah engkau mahu menerobos tembus dari balik awan menyinar serba mulus, lagi terang dari sang badrus. Kalau harus aku menyelam ke lurah hatimu, sedalam mana baru kanku temu pengampunan? Di balik kubu yang kaubina dari rencam rasa yang engk...

The Crossroad

I feel like I finally reached the crossroad that I dread. With each step, my heart sank a little more. The heaviness is not in my feet, but rather, in my chest. All the stops that I took did nothing more than just delaying the inevitable. All the detours always, always lead me back to this. The other day someone asked me how old I am? And I hesitated. No, not because I'm afraid to reveal how old I am, because it's pretty evident that I look my age, there's just no point lying. Right hand to God, at that time I forgot my age! So my head did a little calculation and I just realized that I'm freakin 27 going 28. Not caring about your age might seem romantic, but that is only true if you're living your life knowing what you want. And I'm not. What is my accomplishment so far? I don't have my own car (and it's killing me). I'm not in anyway close to owning a house, heck I don't even rent one because I'm living in a subsidized company house ...

Bulu Hidung

Image
Engkau bagai bulu hidung, Diam tersorok, meliuk-lentok, Tabah engkau di dalam gelap, Perlahan kau tumbuh, tetapi aduh, begitu pasti begitu ampuh. Kadang hangat engkau dihembus udara utara, Kemudian dingin disapa sepoi selatan, Ada ketika dilanda banjir masin, Ada kala dibenam lumpur, menggelupur Terpisat-pisat engkau cuba bangkit Dari kerak hijau melekit. Engkau bagai bulu hidung, Perlahan-lahan engkau melolos diri dari gua yang memenjara, Apalah kiranya dipotong direntap dicarik ditarik, Bahkan setimpal semuanya demi seketika merdeka. Tidak. Tidak akan sesekali engkau berhenti menjadi subur, Yakinlah dari cambahanmu engkau melunjur, Biar di tangan manusia engkau berkubur, Rentaplah! Biar tercabut dari umbi yang mengakar, Tetap bangkit walau bumi henti berputar, Dari pintu dua gua terperongo, Ayuh jengahlah engkau keluar!

Sang Pengejar

Aku mengejar engkau dikejar, Begitulah. Perlu ada cerita sebelum mahu bicara, Harus ada agenda sebelum berjumpa, Kena ditetapkan mana dan bila, Dikira-kira ongkosnya. Tanpa kita sedar, tali merah yang disimpul pada pasak hati kita, Kini boleh dinilai dengan wang ringgit. Dan tanpa aku sedar, aku menyumpah pada Tuhan yang mencampak kita, Terpisah masa dan ruang yang semakin menjurang tapi semakin menghimpit. Bukan salah sesiapa. Bahkan lumrah, qada dan qadar. Aku mengejar engkau dikejar. Begitulah.

Neraka

Dapatkah aku risik keindahan dalam lubang neraka? Dinding-dinding konkrit retak bermandikan panas. Dicela asap dan debu, tak cukup sifat, asal boleh guna. Herot-berot biarlah, lantak pi kalau tak roboh tak apa. Anak mata bagai dicucuh dengan bara rokok, pekan ini barua kepada petualang totok, sang pelacur kota yang menjaja merdeka demi kertas-kertas ronyok, yang dikaut dari kocek yang dilenjun kangkang berpeluh. Pekan bodoh ini sempit dan buruk, hingar dan sibuk hingga tiada hijau yang ingin tumbuh. Warna yang tinggal hanya kelabu simen dan hitam jelaga, yang merah hanya jalan tak berturap, haiwannya tinggal anjing kucing berkurap. Tulang ikan dan isi perut babi di campak ke dalam longkang, digogong anjing dikunyah kucing, serpihnya diunggis cencorot dan tikus. Unggas yang ada -- kuak-kuak si hitam gagak, desing mengacau lalat dan langau. Tong yang tadi paginya diunggah dengan sampah, bakal dipunggah aci rumah sebelah. Entah berbaloi mana sesen dua dari tin, botol, dan kotak y...

Bipolar

Adakah itu kemaafanmu? Adakah redup pandangmu, dan nipis senyum di bujur wajahmu itu satu pengampunan? Andai benar itu ajakanmu untuk kembali damai, kenapa hati ini dicakar gusar? Mengapa senda guraumu membuat aku tertunduk malu? Malu pada dosa yang lebih mudah bagi engkau dari aku untuk maafi. Ironi bila dikenang luluh kecai hati ini bila aku dihukum dengan tidak-endah. Aku bagai orang dungu, mahu menyauk kering laut kemarahan dengan bakul rotan. Bila aku  mahu merangkul engkau jangan pergi, yang aku kaup hanya ruh kenangan yang silam, yang engkau tinggalkan buat menghantui malam-malam aku bermenung. Kejam. Dan kini bila sudah reda marah ditangis masa, engkau bersedia salamku disambut, aku pula menjadi takut. Tiada kemaafan yang mudah, aku tahu itu. Bundar pandangmu, lengkuk senyummu, canda guraumu semua itu payah bagimu, aku tahu itu. Tapi rasanya belum setimpal lagi, tak layak kiranya untuk aku bersandar di pangkal pohon persahabatan kita. Pohon yang aku cuba bakar, ti...

Kawan

Image
Malam ini, aku akan hilang seorang kawan yang hidupnya dulu seputar buku, lagu, dan secawan teh. Pergi b ukanlah selamanya, beberapa hari dan malam cuma.  Pergi menakluk puncak nan tiga, kalau ada izin Tuhan. Entah hati ini mengapa terasa berat. Semacam dengan kembara yang kali ini, lengkap terjawab soala n-soalan yang tiada hati untuk aku ucap: Adakah engkau mengharap belas, perhatian, dan kasih dari yang lain? Dari mereka yang tidak satu tahun engkau kenal? Dari mereka yang tidak satu tahun pun mengenal engkau?  Rasanya seperti kita bermain XOX, kawan. Aku cuba mematikan langkah engkau dengan X. Tapi engkau tangkas melakar O. Mencuba aku perangkap engkau di penjuru dengan sebuah pangkah, tapi cepat engkau mengubah tingkah. Bila kotak-kotak hampir habis terisi di tengah dan di hujung, yang aku dapat lakukan hanyalah   play along. Ingatkah lagi engkau halnya Bukit Kutu dulu?   Kalau hati engkau tetaplah pada kembara yang datang ini, buatl...